Langsung ke konten utama

Kenikmatan Setelah Lelah Berjuang

“وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ”

Waktu itu, sekitar kurang lebih tiga pekan sebelu mengikuti ujian akhir level. Seorang santri di selimuti kegelisahan dalam hatinya.  proses belajar sudah ia jalankan sebagaimana mestinya. Tapi dalam pikirannya, ada sesuatu yang nampaknya perlu segera di jawab.

Di siang hari yang cukup terik, di sebuah aula berukuran sedang, seorang santri tengah belajar seorang diri. Ditengah teman-temannya sedang rehat siang di asrama, dan sebagiannya tengah mempersiapkan hafalan untuk setoran di sore hari.

Saat ia sedang asik dengan buku dan catatan belajarnya, seketika ia termenung, memikirkan hasil belajarnya selama ini, memikirkan apa yang sebenarnya di cari, apakah benar ia menikmati prosesnya, mengapa semuanya seperti terasa biasa-biasa saja? Ya, ia merasa seperti tidak sedang berjuang. Padahal waktu tidur siang selalu ia gunakan untuk belajar, juga pada malam hari ia selalu sempatkan belajar sebelum tidur.  Tapi ia masih merasa belum berusaha dengan baik.

Ada niat dalam dirinya untuk bertanya kepada ustadz saat pelajaran di kelas. Tapi lidahnya kelu, malu. Kelas terlalu ramai, dan pertanyaan-pertanyaan dariyang lain membuatnya mengurungkan niat. 

Esok harinya, di waktu yang sama, ia kembali ke aula itu. Duduk dan belajar seperti biasa. Tapi keresahan itu masih menetap. Membuat pikirannya tidak fokus.

Tiba-tiba, seorang temannya lewat di hadapannya seraya berkata,

“Maasyaallah, belajar terus kamu ya rajin, orang-orang pada tidur siang lho” 

Ia hanya tersenyum kecil. Dalam hatinya berkata, "aku bukannya rajin, aku hanya menyadari kemampuanku yang masih jauh dari yang lain, maka aku harus berusaha lebih".

Santri tersebut pun merenung kembali, hingga tak sadar ia meneteskan air mata, 

“Ya Allah, aku pengen merasakan nikmatnya belajar, ingin merasakan nikmatnya berjuang, ingin punya kemampuan yang lebih baik dari kemampuanku sebelumnya”.

Setelah itu ia pun kembali ke kamar untuk istirahat.

Saat di kamar, ia bertanya kepada salah satu anak kamarnya, 

“ menurut kamu, gimana sih supaya kita bisa ngerasain nikmatnya berusaha atau berjuang gitu dalam belajar, selama ini aku belajar kok ngerasa lempeng-lempeng aja”.

Temannya pun menjawab, 

“mungkin perasaan kamu aja kali, kan kamu selama ini udah belajar teus loh, apalagi pas awal-awal masuk sampai nyamperin guru-guru untuk belajar”

Temannya pun tidak memberikan ia solusi, ia pun berniat akan benar-benar bertanya kepada ustadznya ketika ada mata pelajarannya di kelas.

..

Hari itu pun datang, kali ini ia bertekad untuk benar bertanya.

Saat sesi tanya jawab dimulai, dengan percaya diri ia mengangkat tangan,

“ana ustadz, ingin bertanya”, 

“ baik silahkan” sambung ustadz.

“ Bagaimana supaya kita bisa merasakan nikmatnya belajar dan berusaha atau berjuang dalam menuntut ilmu?"

Ustadz tidak langsung menjawab, melainkan memalingkan arah mataku untuk tertuju pada satu tulisan di papan yang terletak di sudut kelas.

Lalu dengan singkat ustadz menjawab,

 “ lihat papan itu dan coba baca” beliau menunjuk ke salah satu mahfudzat (kata mutiara bahasa arab) yang bertuliskan, 

وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ

lalu beliau menyambung perkataannya, 

"simpel saja, itu jawabannya. Tidak ada kenikmatan yang didapatkan oleh seseorang kecuali setelah bersusah payah, tidak apa-apa jika kamu merasa gelisah dengan pertanyaan kamu tadi, terus lanjutkan belajar dengan kapasitas yang lebih dari kamu biasanya, dan harus sabar karena segala sesuatu itu tidak ada yang instan, nak, dan jangan lupa juga untuk selalu perbaharui niat, ya”  tambah ustadz.

Singkat, namun amat dalam maknanya. Ia pun berterimakasih atas jawaban yang telah diberikan kepadanya dan berusaha untuk  selalu mengingat nasihat tersebut .

Ia pun kembali belajar dengan giat dan selalu memohon kepada Allah untuk kemudahannya dalam menuntut ilmu.

Dari kisahnya diatas membuat ia berfikir bahwa terkadang kesulitan itu ternyata dirindukan, hidup yang lempeng-lempeng saja justru membuat ia gelisah, dan sabar adalah kunci utamanya dalam berproses.

Selamat belajar, 

selamat bertumbuh.. :)


Komentar

literacy mengatakan…
Masyaallah janiiiii, keren bgt loch. Semangat terus Zaniraaaa. Ini roommate jani di almus hehehe ;)

Postingan populer dari blog ini

Di Masjid Itu, Ia Temukan Ketenangan

“Cukuplah Allah, sebaik-baik tempat mengadu dan berkeluh kesah.” Dari sudut ruangan yang terbuka, aku melihat seseorang tampak sedang terpuruk. Dengan berani, ia keluar dari rumahnya untuk mencari tempat ternyaman untuk mengadu. Ia mendatangi sebuah masjid yang penuh dengan ketenteraman. Kepada Allah, ia mengadukan segala keluh dan kesahnya. Tanpa kata, tanpa suara, tiba-tiba matanya tampak semakin memerah. Isak tangis pun mulai terdengar. Ia menumpahkan air mata yang selama ini ia tahan, meluapkan segala sesak di dadanya. Ia tumpahkan perasaan itu bersamaan dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang ia baca. Ia pun mendirikan salat dan menengadahkan kedua tangannya, memohon pertolongan Allah SWT. Setelah beberapa waktu, ia terlihat lebih tenang. Meski badai dalam hatinya belum sepenuhnya reda, ia berusaha untuk kembali berdiri dan menegakkan kepala. Ia membasuh pelupuk matanya yang telah basah oleh air mata dengan percikan air. Ia pun tersadar bahwa ia tak boleh terlalu larut dalam ...

Jelmaanmu dan Anganku

Pada semilir angin yang kian mendingin, Ku temukan jelmaanmu, Membersamai perjalanan ini. Terimakasih untukmu, Yang ternyata tak mengobati rindu, Tapi justru kian menyiksaku. Boleh ku bertanya lagi? Apakah ini dirimu? Atau memang hanya jelmaanmu? Atau malah angan-anganku? Sebab benar sepertimu, Yang diamnya saja, Menjadi nasihat bagiku. Tersadar, Lalu aku menertawakan anganku, Yang tak kunjung tertepis itu. Iya, ini masih tentangmu, Wahai kelahiran dua ribu satu. Cairo International Airport, 21 Desember 2024

Nggak Semua Orang Bisa Nerima Kita

Seseorang pernah berkata: "Setiap orang pasti ada yang nggak suka sama kita. Entah itu orangnya baik ataupun kurang baik, yang pasti akan selalu ada yang nggak suka. Dan kita, sebagai orang yang nggak disukai misalnya, jangan sampai bersikap sama seperti mereka atau bahkan sampai membenci balik. Karena belum tentu orang itu benar-benar nggak suka atau benci, bisa jadi hanya kurang sreg dengan apa yang kita lakukan." Setiap orang pasti punya kekurangan, dan sebaik apa pun manusia, pasti ada yang nggak menyukainya. Rasulullah SAW.—sebaik-baiknya makhluk—pun tetap ada yang membenci. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya manusia biasa? ... Cara orang bersikap pun berbeda-beda. Ada yang menunjukkan langsung di depan mata, ada yang diam-diam, bahkan ada yang sampai mengajak orang lain untuk ikut tidak menyukai kita. Tapi itu wajar, karena kita nggak punya kuasa atas orang lain. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk selalu senang dengan apa yang kita lakukan. Kita juga nggak bisa...