Langsung ke konten utama

Bersama Hujan


   Ternyata, hujan menjadi salah satu fenomena yang membuat sebagian orang terkesan dengannya, Entah itu kesan baik ataupun kurang baik dari masing-masing cerita hidup seseorang. Puisi singkat ini aku tulis saat masih di pondok pesantren, merenung di sisi lapangan pondok, hingga tertulislah kalimat demi kalimat yang alhamdulillah tulisan ini sudah di bukukan oleh penerbit @halaman.indonesia pada buku antalogi puisi yang berjudul "berangkat aku ke keningmu" 


Tetesan air jatuh perlahan

Sedikit demi sedikit dengan penuh kehatian

Membawa bunyi hempaskan kesunyian

Hingga kau turun beriringan

 

Kau bawa kegembiraan itu

Hingga mereka kembali pulang

Namun ada jua yang menghampirimu

Bermain bersama rintik yang kau bawa

 

Ada jua yang hanya menikmati nadamu

Hingga mereka tiba di ruang nostalgia

Menghayati setiap rintikan itu

Berisi jutaan kenangan yang takkan ada habisnya

 

Wahai rintik yang penuh harga

Hadirmu kerap kali membawa kedamaian

Meski tak jarang kau bawa kesenduan

Kau datang dengan kebungkaman

Perginya pun tak tahu kapan


Hujan..

Kau membuat mimpi hadir bersama berjuta harapan

Terimakasih hujan

Bersamamu kutemukan ketenangan


(Written on Stadion Palagan Agung Al-Zaytun)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Masjid Itu, Ia Temukan Ketenangan

“Cukuplah Allah, sebaik-baik tempat mengadu dan berkeluh kesah.” Dari sudut ruangan yang terbuka, aku melihat seseorang tampak sedang terpuruk. Dengan berani, ia keluar dari rumahnya untuk mencari tempat ternyaman untuk mengadu. Ia mendatangi sebuah masjid yang penuh dengan ketenteraman. Kepada Allah, ia mengadukan segala keluh dan kesahnya. Tanpa kata, tanpa suara, tiba-tiba matanya tampak semakin memerah. Isak tangis pun mulai terdengar. Ia menumpahkan air mata yang selama ini ia tahan, meluapkan segala sesak di dadanya. Ia tumpahkan perasaan itu bersamaan dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang ia baca. Ia pun mendirikan salat dan menengadahkan kedua tangannya, memohon pertolongan Allah SWT. Setelah beberapa waktu, ia terlihat lebih tenang. Meski badai dalam hatinya belum sepenuhnya reda, ia berusaha untuk kembali berdiri dan menegakkan kepala. Ia membasuh pelupuk matanya yang telah basah oleh air mata dengan percikan air. Ia pun tersadar bahwa ia tak boleh terlalu larut dalam ...

Jelmaanmu dan Anganku

Pada semilir angin yang kian mendingin, Ku temukan jelmaanmu, Membersamai perjalanan ini. Terimakasih untukmu, Yang ternyata tak mengobati rindu, Tapi justru kian menyiksaku. Boleh ku bertanya lagi? Apakah ini dirimu? Atau memang hanya jelmaanmu? Atau malah angan-anganku? Sebab benar sepertimu, Yang diamnya saja, Menjadi nasihat bagiku. Tersadar, Lalu aku menertawakan anganku, Yang tak kunjung tertepis itu. Iya, ini masih tentangmu, Wahai kelahiran dua ribu satu. Cairo International Airport, 21 Desember 2024

Nggak Semua Orang Bisa Nerima Kita

Seseorang pernah berkata: "Setiap orang pasti ada yang nggak suka sama kita. Entah itu orangnya baik ataupun kurang baik, yang pasti akan selalu ada yang nggak suka. Dan kita, sebagai orang yang nggak disukai misalnya, jangan sampai bersikap sama seperti mereka atau bahkan sampai membenci balik. Karena belum tentu orang itu benar-benar nggak suka atau benci, bisa jadi hanya kurang sreg dengan apa yang kita lakukan." Setiap orang pasti punya kekurangan, dan sebaik apa pun manusia, pasti ada yang nggak menyukainya. Rasulullah SAW.—sebaik-baiknya makhluk—pun tetap ada yang membenci. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya manusia biasa? ... Cara orang bersikap pun berbeda-beda. Ada yang menunjukkan langsung di depan mata, ada yang diam-diam, bahkan ada yang sampai mengajak orang lain untuk ikut tidak menyukai kita. Tapi itu wajar, karena kita nggak punya kuasa atas orang lain. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk selalu senang dengan apa yang kita lakukan. Kita juga nggak bisa...