Setiap dari kita pasti pernah mengharapkan sesuatu. Tentunya berharap untuk konteks ibadah ya, kalau bukan untuk ibadah, bisa jadi itu hanya sekedar harapan biasa, yang hanya untuk memenuhi keinginan (hawa nafsu), tapi manusiawi juga karena manusia punya hawa nafsu, asal kita bisa mengendalikannya aja.
Sebenernya, segala sesuatu yang kita harapkan itu, benar-benar sebuah “harapan” atau hanya sekedar “angan-angan” saja sih? Kapan kita berada pada tahap berharap dan kapan juga kita berada pada tahap berangan-angan?
Ternyata dalam berharap juga ada syarat-syaratnya, apa saja sih? (Dari kitab Ad-daa wa dawaa, yang dibahas langsung oleh Ustadz Abu Bakar Al-Akhdory pada kajiannya di Masjid Alumni IPB Bogor 8/12/2020).
Syarat-syarat berharap :
1. Cinta terhadap apa yang diharapkan.
Yang pertama itu adalah rasa cinta, cinta terhadap apa yang kita
harapkan. Bagaimana sih supaya rasa cinta itu tumbuh dengan baik? ternyata
cinta itu bisa tumbuh, berkurang, bahkan hilang loh. Rasa cinta itu
akan tumbuh tentu karena mengharapkan ridho Allah SWT.,bukan hanya untuk
memenuhi keinginan atau hawa nafsu kita saja. Cinta karna Allah bisa membuat
cinta itu terus melekat pada diri kita. “Tapi kan rasa cinta itu gabisa
tiba-tiba ada gitu aja? “Ya..memang, supaya rasa cinta itu timbul, maka kita
harus kenal dulu sama apa yang kita harapkan tadi, kalau udah kenal, kita juga
harus paham dengan harapan kita itu. Kalau kita tidak kenal dan tidak paham, bagaimana mau
cinta yaa....?
Kita sebagai umat
muslim seharusnya mencintai apa-apa yang Allah cintai, misalnya Allah mencintai
orang yang selalu berbuat baik terhadap sesama. Maka kita sebagai hamba-Nya
harus juga mencintai orang-orang yang selalu berbuat baik, bahkan semestinya
kita juga mempunyai harapan dan selalu berusaha untuk menjadi hamba yang
dicintai-Nya.
Segala sesuatu itu akan terasa
ringan apabila dilandasi dengan rasa cinta. Misalnya dalam suatu pelajaran disekolah,
kita suka sama pelajaran ahasa arab misalnya, karna dari awal kita sudah kenal dengan dasar-dasarnya, maka kita akan mudah untuk
memahami pelajaran tersebut bukan? Ketika kita sudah paham, maka akan timbul
rasa cinta terhadap pelajaran-pelajaran tersebut. Sehingga dalam proses
belajar, kita tidak akan merasa kesulitan.
2. Kekhawatiran terhadap apa yang kita harapkan
Kalau kita benar-benar berharap
sesuatu yang kita harapkan itu tercapai, maka harus ada rasa khawatir/rasa
takut tidak mencapai apa yang diharapkan.
Misalnya, kalau kita berharap masuk
surga, maka harus ada rasa khawatir, takut Allah tidak menghendaki kita untuk
masuk ke surga-Nya. Jangan sampai, mau tidak mengaji, tidak beruat baik, dan lain sebagainya tapi tidak ada rasa khawatir sama sekali.
Intinya, rasa khawatir disini
adalah khawatir/takut kita tidak sampai pada tujuan atau harapan kita. Maka
kita harus senantiasa selalu beriman kepada-Nya dan beramal shaleh.
3. Usaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan
Usaha disini adalah
usaha dengan maksimal, yakni sesuai dengan kemampuan kita, bukan sesuai dengan
kemauan. Karena kemampuan itu hubungannya dengan keimanan, sedangkan kemauan
hubungannya dengan hawa nafsu. Jangan lupa sertain do’a juga ya.
Sebenarnya dalam usaha
itu tidak ada yang berat, dalam ibadah pun tidak ada yang memberatkan. Meskipun
misalnya terasa berat, pasti Allah akan tetap memberikan keringanan. Terlebih
usaha yang diiringi dengan kesabaran hati, itu akan lebih terasa ringan. Misalpun dalam proses usaha kita menemukan tantangan-tantangan
yang menurut kita berat, boleh jadi Allah tengah menguji kita, maka kita harus
tetap bersabar dan yakin bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya diatas
kemampuannya.
Nah.. dari ketiga syarat diatas, apabila salah satunya saja tidak terpenuhi maka bisa dikatakan itu hanya angan angan.
Terus gimana contoh penerapan ketiga syarat tadi?
Misal, kita berharap untuk memahami suatu ilmu. Tentu kita harus cinta dulu sama ilmu yang bakal
kita pelajari itu, mulai dari kenal dengan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu
tersebut begitupun dengan pendalaman ilmu itu sendiri sampai kita memahaminya.
Hingga rasa cinta terhadap ilmu yang akan kita dalami itu timbul. Luruskan niat, karna
Allah ta’ala. Dan dengan tujuan yang baik pula, seperti untuk mengangkat kebodohan
pada diri kita, atau untuk melakukan segala amal kebaikan yang didasari karena
paham, bukan karena “katanya-katanya” terus. Dan untuk mengangkat kebodohan
orang lain misalnya.
Dari rasa cinta tadi, haruslah timbul rasa kekhawatiran. Rasa takut tidak
dapat memahami ilmu tersebut dengan baik. Dengan tujuan, Untuk kepentingan
pribadi misalnya, atau untuk mengajar, untuk menghadapi persoalan, atau untuk
membimbing anak-anak kelak. Rasa khawatir itu harus ada, khawatir kita tidak
sampai pada tujuan kita.
Setelah adanya rasa cinta dan kekhawatiran, tentu kita harus melakukan suatu upaya/usaha untuk dapat meraih ilmu tersebut. Yakni dengan belajar dengan sungguh-sungguh misalnya, berguru pada yang ahlinya secara konsisten, dan lain sebagainya.
Contoh lagi nih, misalnya kita punya banyak cita-cita sampai-sampai di tempel di mading kamar kita, tapi kita ga paham tentang cita-cita kita itu, apalagi cinta sama cita-cita tersebut, gaada juga rasa khawatir tidak mendapatkan apa-apa yang di cita-citakan. Ga ada juga usaha yang disertai doa buat ngedapetin itu semua, ya kemungkinan dapet gak ya? Yang ada tempelan di mading bakal jadi sekedar tempelan aja nantinya. nah ini hanya salah satu contohnya aja sii hehe..
Jadi selama ini, kita betul-betul berharap, atau hanya sekedar berangan-angan?
Komentar